Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MIPIT SAPTA TIRTA KAHURIPAN Merawat Mata Air, Menjaga Warisan Leluhur dalam Rangkaian Gelar Budaya Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung 2026

TALAGA - Rabu 29 Juli 2026
Sebagai bagian dari rangkaian Gelar Budaya Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung 2026, masyarakat adat bersama Keprabon Talaga Manggung kembali menyelenggarakan prosesi sakral Mipit Sapta Tirta Kahuripan, yakni ritual pengambilan air suci dari tujuh mata air bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan peradaban Karatuan Talaga Manggung.

Prosesi ini dilaksanakan oleh petugas khusus Keprabon Talaga Manggung sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian sumber-sumber kehidupan. Air yang dihimpun bukan sekadar unsur alam, melainkan simbol kehidupan, kesucian, serta kesinambungan peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kepala Balai Konservasi Cagar Budaya Talaga Manggung, Asep Asdha Singhawinata, menjelaskan bahwa dalam pandangan budaya Sunda, mata air merupakan tirta kahuripan atau air kehidupan yang melambangkan kemurnian, keseimbangan alam, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

"Setiap tetes air yang diambil melalui prosesi adat ini mengandung doa dan harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa dilimpahi keselamatan, kemakmuran, serta keberkahan, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan," ujarnya.

Lebih lanjut, Asep Asdha Singhawinata mengatakan bahwa Mipit Sapta Tirta Kahuripan mengandung nilai-nilai filosofis yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Pertama, air merupakan sumber kehidupan dan kesucian. Kejernihan mata air melambangkan hati yang bersih dan kehidupan yang suci. Dalam berbagai tradisi Nusantara, air digunakan sebagai sarana penyucian lahir dan batin sekaligus menjadi simbol keberkahan.

Kedua, ritual ini mengajarkan pentingnya kesadaran ekologis. Mata air akan terus mengalir apabila hutan, tanah, dan lingkungan tetap terpelihara. Prosesi ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam berarti menjaga keberlangsungan hidup seluruh makhluk.

Ketiga, sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah mengandung pesan tentang kerendahan hati, kebijaksanaan, dan keterbukaan. Air mengajarkan manusia untuk tidak bersikap angkuh, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta senantiasa memberikan manfaat bagi sesama.

Keempat, mata air menjadi perlambang ketekunan dan kesabaran. Sebagaimana mata air yang terus memancar tanpa henti, manusia diajak untuk tekun berikhtiar, sabar menghadapi perjalanan hidup, dan tidak pernah berhenti menebarkan kebaikan.

Kelima, pengambilan air dari berbagai sumber yang kemudian dipersatukan melambangkan persatuan dalam keberagaman. Meski berasal dari tempat yang berbeda, seluruh air akhirnya bermuara menjadi satu, sebagaimana masyarakat yang hidup dalam keberagaman namun tetap bersatu dalam semangat kebersamaan.

Keenam, air mengajarkan kebijaksanaan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Manusia dituntut menggunakan anugerah alam secara arif, tidak berlebihan, serta mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang.

Ketujuh, air bersama cahaya matahari merupakan energi utama kehidupan. Keduanya menjadi fondasi tumbuh dan berkembangnya seluruh makhluk hidup di bumi. Oleh sebab itu, penghormatan terhadap mata air juga merupakan penghormatan terhadap keberlangsungan kehidupan itu sendiri.

Prosesi Mipit Sapta Tirta Kahuripan dilaksanakan dengan mengambil air dari tujuh mata air bersejarah yang memiliki keterkaitan dengan Karatuan Talaga Manggung, yaitu:

1. Gunung Bitung, Desa Wangkelang, Kecamatan Cingambul;
2. Mata Air Cikiray, Kecamatan Talaga;
3. Mata Air Sunan Wanaperih, Desa Kagok, Kecamatan Banjaran;
4. Mata Air Cicamas, Desa Campaga, Kecamatan Talaga;
5. Mata Air Regasari, Kecamatan Talaga;
6. Mata Air Lemah Abang, Cikeusal, Kecamatan Talaga; dan
7. Talaga Purwa Situ Sangiang, Kecamatan Banjaran, sebagai lokasi penyatuan seluruh Sapta Tirta Kahuripan sekaligus penutupan rangkaian prosesi.

Rangkaian kegiatan berlangsung mulai Rabu, 29 Juli 2026, dan berakhir pada Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB di Talaga Purwa Situ Sangiang. Prosesi ini menjadi salah satu tahapan penting menjelang pelaksanaan Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung, sebuah tradisi yang merepresentasikan penghormatan kepada leluhur, pelestarian nilai-nilai budaya, serta penguatan identitas masyarakat Talaga.

Melalui Mipit Sapta Tirta Kahuripan, Keprabon Talaga Manggung mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjaga mata air, hutan, dan lingkungan sebagai warisan yang tak ternilai. Sebab, selama mata air tetap mengalir, kehidupan akan terus berlangsung; dan selama budaya tetap dijaga, jati diri bangsa akan tetap lestari.

Jaga Makeyana, Patikrama Paninggalna Sya Seda.

Post a Comment for "MIPIT SAPTA TIRTA KAHURIPAN Merawat Mata Air, Menjaga Warisan Leluhur dalam Rangkaian Gelar Budaya Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung 2026"