Miris! Kakek 75 Tahun di Purwakarta Bertahan di Rumah Rapuh, Penghasilan Rp30 Ribu Sehari Hanya Cukup untuk Makan
PURWAKARTA || Di usia senja yang semestinya dijalani dengan tenang, Dadang Setiawan (75), warga Gang Beringin RT 79 RW 08, Kelurahan Nagri Kaler, Kabupaten Purwakarta, masih harus menghadapi kondisi rumah yang memprihatinkan. Atap rumah peninggalan orang tuanya itu telah rapuh dan bocor di berbagai bagian, bahkan dikhawatirkan roboh.
Setiap kali hujan turun, air merembes melalui atap dan menggenangi bagian dalam rumah. Kondisi tersebut membuat Dadang dan keluarganya harus menjalani hari-hari dengan rasa khawatir, terutama ketika cuaca buruk melanda.
Di tengah keterbatasan ekonomi, memperbaiki rumah bukanlah perkara mudah bagi Dadang. Penghasilannya yang tidak menentu dari berjualan bakso milik orang lain hanya berkisar Rp30.000 per hari. Pendapatan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Rata-rata setiap hari dapatnya tiga puluh ribu, kadang kurang atau lebih. Itu hanya cukup untuk makan,” ungkap Dadang, Kamis (23/10/2026).
*Rumah Peninggalan Orang Tua Kian Rapuh*
Bagi Dadang, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh, melainkan peninggalan orang tua yang menyimpan banyak kenangan. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan perbaikan.
“Ini rumah peninggalan orang tua. Sekarang sudah rapuh, takut roboh. Kalau hujan bocor sana-sini, tidak tenang. Tidak tega lihat keluarga seperti ini,” lanjutnya lirih.
Kondisi rumah yang tidak lagi memadai, ditambah penghasilan yang terbatas, membuat Dadang kesulitan melakukan perbaikan secara mandiri. Kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas, sementara kerusakan rumah terus menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
*Berharap Perhatian Pemerintah melalui Program Rutilahu*
Di tengah kondisi tersebut, Dadang berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah agar rumah yang ditempatinya bersama keluarga dapat diperbaiki dan kembali menjadi tempat tinggal yang aman serta layak huni.
Ia berharap dapat memperoleh bantuan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) maupun program bantuan sosial lain yang sesuai dengan ketentuan.
Kondisi yang dialami Dadang menjadi pengingat bahwa persoalan tempat tinggal dan keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian warga. Perhatian terhadap warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan diharapkan dapat terus diperkuat melalui pendataan, verifikasi, dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran.
*Menanti Respons dan Langkah Nyata*
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak Kelurahan Nagri Kaler dan Dinas Perumahan Kabupaten Purwakarta terkait kemungkinan bantuan perbaikan rumah melalui program Rutilahu maupun skema bantuan lainnya.
Konfirmasi tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi penanganan, persyaratan program, serta peluang bantuan yang dapat diakses oleh Dadang dan keluarganya.
Harapannya, kondisi rumah yang rapuh dan bocor ini mendapat perhatian sehingga Dadang tidak harus terus dihantui kekhawatiran setiap kali hujan turun.
Di usia yang telah menginjak 75 tahun, rumah yang aman dan layak huni merupakan kebutuhan mendasar. Kepedulian bersama, disertai langkah nyata dari pihak terkait sesuai kewenangannya, diharapkan dapat membuka jalan bagi Dadang dan keluarganya untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bermartabat.
Post a Comment for "Miris! Kakek 75 Tahun di Purwakarta Bertahan di Rumah Rapuh, Penghasilan Rp30 Ribu Sehari Hanya Cukup untuk Makan"