Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tolong Rawat Stadion Purnawarman: Kembalikan Hak Sehat Atlet Muda Purwakarta


Oleh:
Yosep HamdiKetua DPC Aswin dan Pemerhati Olahraga Kabupaten Purwakarta


Gala Siswa Indonesia (GSI) Tingkat SMP se-Kabupaten Purwakarta kembali digelar. Sebagai sebuah panggung tahunan, ajang ini bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Di atas rumput hijau inilah impian anak-anak muda Purwakarta dirajut, sportivitas dipupuk, dan bibit-bibit unggul nasional dijaring sejak usia dini. Disinergikan melalui kolaborasi anggaran APBN (Kemendikbudristek/Puspresnas), APBD melalui Dinas Pendidikan, hingga dana BOS sekolah, GSI sewajarnya menjadi momentum perayaan olahraga yang paripurna.

Namun, hanya satu hari menjelang kick-off akbar tersebut, sebuah pemandangan kontras tersaji di Stadion Purnawarman. Stadion kebanggaan masyarakat Purwakarta yang diklaim berlevel lapangan sepak bola nasional ini justru tampak kumuh dan berselimut debu. Kondisi ini seketika memicu tanda tanya besar dari masyarakat dan pencinta olahraga lokal: ke mana larinya hasil retribusi yang selama ini dipungut?

Bukan rahasia lagi bahwa Stadion Purnawarman aktif mengalirkan pendapatan. Setiap harinya—termasuk akhir pekan (Sabtu dan Minggu) saat antusiasme warga sedang tinggi-tingginya—pengunjung ditarik biaya retribusi tiket masuk sebesar Rp5.000. Belum lagi aliran dana segar dari tiket penonton saat stadion menjadi tuan rumah bagi berbagai momen hajatan besar lainnya. Secara logika perputaran modal, arus kas masuk dari retribusi harian ini seharusnya berbanding lurus dengan kelayakan fasilitas yang dinikmati publik.

Sayangnya, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Keadaan fisik stadion yang kurang terawat menjelang ajang resmi sekelas GSI melahirkan kesan adanya ketimpangan manajemen. Muncul kesan bahwa fungsi pemeliharaan (maintenance) berjalan lambat, atau bahkan belum menjadi prioritas utama pihak pengelola. Hal ini menjadi ironis karena esensi utama dari olahraga adalah kesehatan dan kebugaran jasmani. Menggelar turnamen untuk anak-anak usia remaja di fasilitas yang berdebu dan kurang bersih justru berisiko memicu masalah kesehatan baru, seperti gangguan pernapasan. Alih-alih melahirkan atlet yang bugar, atmosfer yang kotor justru mengancam kesehatan para pemain muda yang menjadi aset masa depan daerah.

Kendati demikian, kita tentu perlu melihat persoalan ini secara objektif dan berimbang. Mengelola sebuah kompleks stadion berstandar nasional bukanlah perkara mudah. Pihak pengelola sering kali dihadapkan pada tantangan teknis, mulai dari keterbatasan jumlah personel kebersihan, birokrasi pencairan anggaran pemeliharaan berkala, hingga tingginya beban operasional harian yang mungkin belum sepenuhnya tertutup oleh pendapatan retribusi semata. Selain itu, masa transisi atau persiapan logistik menjelang acara besar sering kali menciptakan sisa-sisa material pembongkaran yang membuat area terkesan berantakan untuk sementara waktu. Namun, kendala teknis ataupun birokrasi tidak boleh terus-menerus dijadikan permakluman. Transparansi pengelolaan dana retribusi dan komitmen pemeliharaan fasilitas publik adalah bentuk tanggung jawab mutlak pemerintah daerah dan pengelola kepada masyarakat yang telah membayar hak masuk mereka.

Di sisi lain, penting untuk ditegaskan bahwa seluruh regulasi sepak bola di tanah air tunduk pada aturan hierarki yang linier dari pemerintah pusat dan federasi. Berdasarkan tata kelola kompetisi resmi di Indonesia, penyelenggaraan turnamen bertingkat seperti Gala Siswa Indonesia (GSI)—meskipun diinisiasi oleh kementerian pendidikan—wajib bersinergi dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai otoritas tertinggi sepak bola nasional. Oleh karena itu, di tingkat daerah, panitia pelaksana memiliki kewajiban regulatif untuk melakukan komunikasi, koordinasi, dan sinkronisasi teknis dengan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Purwakarta. Keterlibatan Askab PSSI ini sangat krusial, minimal dalam pengawasan standar pertandingan, penugasan perangkat pertandingan (wasit resmi) yang berlisensi, hingga keabsahan pemanduan bakat talenta muda agar selaras dengan sistem talenta sepak bola nasional.

Pada akhirnya, kita harus kembali membuka lembar komitmen fundamental aset daerah ini. Stadion Purnawarman adalah aset milik Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang dikelola langsung oleh dinas terkait (Disporaparbud), di mana pembangunan dan renovasi besarnya didanai oleh anggaran negara (APBD/APBD Provinsi) demi memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat umum dan peningkatan prestasi atlet lokal. Oleh karena itu, besar harapan kami kepada pihak pengelola dan instansi berwenang, mohon tengok kembali kondisi lapangan hari ini. GSI Purwakarta adalah hajat marwah pendidikan kita; sangat tidak adil jika semangat membara para siswa SMP harus teredam oleh kepulan debu tribun yang kotor. Mari jadikan stadion ini sebagai tempat yang aman dan sehat, demi masa depan anak-anak kita yang sedang berjuang mengharumkan nama Purwakarta.

Post a Comment for "Tolong Rawat Stadion Purnawarman: Kembalikan Hak Sehat Atlet Muda Purwakarta"